masih sering ngejres ngejres ne... sering sedih dan kalut, susahnya rasa ini.... mungkin kau heran atau malah mencibir... tapi terserah kau boleh anggap bening apa.... tapi buatku.... --kalau boleh-- anggap saja aku serpih masa lalumu yang sekedar ingin tau itu saja.....
jadi ingat pesanmu tempo dulu.... "aku tak mau kisah ini menjadi kisah masa lalu" begitu ya, Aa pernah bilang....?
bening lelah ne, bening capek....bening.....entahlah....
Minggu, 30 Agustus 2009
Jumat, 07 Agustus 2009
Pagi kali ini.....
hari masih pagi, kabut dipepohonan masih menitik satu-satu, basah dan lembab... aku mengerjap-ngerjapkan mata perlahan "Ning sayang... bangun dong, udah kesiangan ne..." suara khasa yang dulu kukenal.... seketika aku terduduk Aa' mataku liar meyapu ruangan, meneliti tiap jengkal apa saja yang kutemui... kosong.... "Ning kopi Aa' mana?" kali ini terdengar dari ruang baca-- seperti yang biasa dilakukan aa' tiap pagi dari ruangan itu-- aku segera turun dari kasur, setengah berlari menuju ruangan itu, tidak ada! "sayang.... 143..." dari sudut ruang tamu, aku berlari ke tempat tersebut, tapi yang kutemukan hanya hampa.... aku terduduk... astagfirullah.... mengapa hingga dtik ini tak mampu kuhapus bayangannya di seantero sudut rumah ini? sepi melanda, cericit burung bahkan tak mampu kudengar.... "ning bantuin dong nyari metode ngajar..... sayang sekarang lagi edisi gombal-gombalan loh.... Ning, menurut teori ini.... Ning ini... Ning itu" aku mendongak dan kutemukan Aa' di kursi malah ruang baca, kutemukan Aa' di sofa, di samping rak buku, dekat komputer, berdiri di pintu, dengan senyum khasnya yang tertarik sebelah, kutemukan mata sipitnya bertebaran seiring dengan senyum itu... banyak Aa' pagi ini... betapa aku sangat menyayanginya.... menghormatinya.... mengaguminya... (maaf.....)
segera aku berlari, menguyur badan dengan wudhu' bibir tak henti melafadzkan dzikir... Allah maafkan aku jika belum mampu, bening ikhlas... ikhlas... ikhlas... nurani terdalam berkata.... maka pagi itu kuhabiskan sisa pagi dengan melafadzkan ayatNya...
segera aku berlari, menguyur badan dengan wudhu' bibir tak henti melafadzkan dzikir... Allah maafkan aku jika belum mampu, bening ikhlas... ikhlas... ikhlas... nurani terdalam berkata.... maka pagi itu kuhabiskan sisa pagi dengan melafadzkan ayatNya...
Selasa, 04 Agustus 2009
Aa' dan kalung
aku masukkamar seperti biasa... duduk terpekur, capek! seharian banyak kerjaan di kantor. blip blip blip... ehm ehm..... sapa yach magrib2 gini! nomer baru!
God! aku begitu piawai dalam hal menasehati, bukankah hal ini juga berlaku buat apa aja? jangankan kalung yang hanya benda mati... kalo manusia yang punya hati dan perasaan tentunya juga begitu..... seketika aku ingat Aa',
astagfirullah... betapa selama ini aku sudah sangat berdosa kepadanya, sudah sedemikian suudzon pada Aa', harusnya tidak seperti ini.... jika masih sayang akan kembali, seperti apapun nantinya itu tergantung kita bagaimana menyikapinya... kalo toh sudah tak ingin kembali dan tak sayang lagi.... ikhlaskan .... ilmu ikhlas itu susah, dan bening sudah dapat sebagian.... alhamdulillah... aku ikhlas... yakin Aa' gak bakal kemana-mana
aku menengadah, menatap langit yang mulai digantungi mega, jingga! aku menatap lekat langit di atas sana.... sangat yakin jika Aa' menatap langit yang sama.... maafkan bening yang selama ini sudah suudzon... maaf... jika nanti dipertemukan dalam kesempatan yang berbeda hanya Dia yang tahu...
"Halo, assalamualaikum" sapakuDEG! sketika aku tersadar, sesuatu yang hilang kalau masih sayang pasti akan kembali juga kok! Aliya yang sabar..., cuma bagaimana kita saja menyikapinya, barang yang hilang saat kembali tak sebagus dahulu lagi... barang itu bisa hilang di selipan lemari.... sela-sela rak buku, atau tempat kotor lainnya, makanya saat barang itu balik agak sedikit kusam dan berdebu, gimana cara kita membersihkannya dari debu... bagaimana kita sabar menghadapinya...." itulah sekilas tentang nasehatku minggu lalu pada Aliya....
"Walaikumsalam, mbak ning... makasih banget..... ini aliya" ooo, temen di kantor redaksi, alisku bertaut, tumben.... ada apa? sapa nie
"emang bening udah ngapain?" tanyaku polos"Minggu kemaren mbak pernah bilang pas kalung aliya hilang, kalo kalungnya sayang ma kamu pasti bakal balik juga kok!. nah krang kalung aliya udah ketemu, maksih... padahal minggu kemaren udah putus asa banget loh! berkat mbak ning ne, aliya jadi tetep semangat nyari kalungnya.... bla... bla... bla... ternyata kalungnya masih sayang aliya... bla... bla... bla"
God! aku begitu piawai dalam hal menasehati, bukankah hal ini juga berlaku buat apa aja? jangankan kalung yang hanya benda mati... kalo manusia yang punya hati dan perasaan tentunya juga begitu..... seketika aku ingat Aa',
astagfirullah... betapa selama ini aku sudah sangat berdosa kepadanya, sudah sedemikian suudzon pada Aa', harusnya tidak seperti ini.... jika masih sayang akan kembali, seperti apapun nantinya itu tergantung kita bagaimana menyikapinya... kalo toh sudah tak ingin kembali dan tak sayang lagi.... ikhlaskan .... ilmu ikhlas itu susah, dan bening sudah dapat sebagian.... alhamdulillah... aku ikhlas... yakin Aa' gak bakal kemana-mana
aku menengadah, menatap langit yang mulai digantungi mega, jingga! aku menatap lekat langit di atas sana.... sangat yakin jika Aa' menatap langit yang sama.... maafkan bening yang selama ini sudah suudzon... maaf... jika nanti dipertemukan dalam kesempatan yang berbeda hanya Dia yang tahu...
Sebab Dia Pergi.....
Waktu merangkak perlahan, dan tentunya tak akan pernah sama, bahkana arakan awan yang berjejer di langit setiap sepersekian sekon juga pastinya berbeda.... bening termenung lama, matanya mengerjap-ngerjap, dan ini adalah renungan yang kesekian... bening terpekur, kini tak ada lagi bahu yang akan menompangnya saat terluka, pun tak ada lagi tangan kokoh yang akan menjaga saat takut, tak akan pernah ada lagi seseorang yang akan selalu ada saat dibutuhkan, lenyap tak bersisa... sama sekali, bening bertanya salah apa aku....? apakah aku sedemikian kejam denganmu A'? tapi pertanyaan itu tak pernah terjawab, hanya menjadi gaung di lembah terdalam pikiran....Aa' untuk sekedar bertemu saja sudah tak sudi, apalagi menjelaskan semuanya...
seperti waktu yang berarak, maka masih segar sepertinya kala Aa' menatap tulus bening "aku tak tahu kapankah langkah ini akan berlabuh pada sebuah muara hingga anganmu tak lagi menjadi bayang semu bagiku" pun masih baru-baru ini juga rasanya saat dengan sungguh-sungguh Aa' berjanji "Kita adalah sepasang rel kereta api yang berjalan beriringan tapi akan berhenti pada stasiun yang sama" serasa manis mengingat semuanya, serasa indah percaya pada Aa'.... tapi seperti waktu yang berputar, maka begitulah juga rasa.... tepat sebulan Aa' torehkan luka "Aku cuma main-main kok sama kamu, jadi lupakan saja semuanya...." serasa dipukul dengan palu godam, segitu tegakah? ada apa..... kenapa? ada yang salah....?
maka kali ini bening benar-benar terpekur, mata dukunya memandang langit, menerobos kejauhan, berharap Aa' juga akan memandang langit yang sama, bening sama sekali tak marah, cuma tentunya kecewa....
mata dukunya yang Bening berkedip, ada satu tetes yang jatuh..... aku menimbang-nimbang, ada beberapa alasan hingga Aa' pergi...
kali ini bening terduduk, sedih tentu saja! aku sudah sedemikian percaya,
Selama Aa' bahagia dengan pilihannya, why not? selama ini Aa' mungkin tak pernah bahagia, bening hanya sebuah cerita pelengkap yang menjadi bumbu, maka rasa itu tak benar-benar ada di hati, sehingga dengan mudah saja dibuang.... harusnya bening tau
"bening.... dalam hidup manusia tentunya pernah jatuh, dia tak pernah mati cuma tak akan pernah berjalan seperti dulu lagi" sebuah suara menggema dari lubuk hati terdalam.... membangun sebuah komitmen itu ibarat membangun sebuah rumah, tak perlu bagus atau mewah apalagi mahal, yang penting terdiri dari empat tiang saja sudah cukup tiang pertama adalah kesetiaan, tiang kedua adalah kasih sayang, tiang ketiga adalah saling pengertian, dan yang keempat adalah kejujuran, seperti juga sebuah rumah, ada kalanya atapnya bocor, dan untuk menambalnya butuh sebuah kata lagi yaitu kekompakan! namun ... jika keempat tiang tersebut roboh, maka untuk membangunnya butuh dua tangan, karena kalau hanya dibangun dengan satu tangan maka akan timpang dan tak akan pernah jadi rumah yang diinginkan....
seperti waktu yang berarak, maka masih segar sepertinya kala Aa' menatap tulus bening "aku tak tahu kapankah langkah ini akan berlabuh pada sebuah muara hingga anganmu tak lagi menjadi bayang semu bagiku" pun masih baru-baru ini juga rasanya saat dengan sungguh-sungguh Aa' berjanji "Kita adalah sepasang rel kereta api yang berjalan beriringan tapi akan berhenti pada stasiun yang sama" serasa manis mengingat semuanya, serasa indah percaya pada Aa'.... tapi seperti waktu yang berputar, maka begitulah juga rasa.... tepat sebulan Aa' torehkan luka "Aku cuma main-main kok sama kamu, jadi lupakan saja semuanya...." serasa dipukul dengan palu godam, segitu tegakah? ada apa..... kenapa? ada yang salah....?
maka kali ini bening benar-benar terpekur, mata dukunya memandang langit, menerobos kejauhan, berharap Aa' juga akan memandang langit yang sama, bening sama sekali tak marah, cuma tentunya kecewa....
mata dukunya yang Bening berkedip, ada satu tetes yang jatuh..... aku menimbang-nimbang, ada beberapa alasan hingga Aa' pergi...
- Bosan, merasa bosan dengan semuanya, sehingga mencari-cari alasan yang tak bisa dipahami
- Ada yang lebih baik dari Bening, sebagai manusia biasa tentunya banyak hal yang ditemuinya kadang kala lebih baik dari apa yang dia miliki, maka tak jarang pepatah yang mengatakan rumput tetangga lebih hijau benar kayaknya
- karena apa yang ada dalam bening, suatu hari Bening mangajak Aa' ke rumah, rumah Bening yang sederhana dengan perabot seadanya, membuat semua alis yang ada akan bertaut tak suka, tentunya banyak orang menginginkan lebih, tapi ternyata hanya itu yang ada... so beginilah jadinya....
- Bening buat kesalahan yang tak pernah Aa' ungkapkan, kejujuran sudah mulai terkikis
kali ini bening terduduk, sedih tentu saja! aku sudah sedemikian percaya,
"Selama ini kita baik-baik saja mbak..." keluh ning bingung pada mbak L yang kebetulan mengaerti permasalahannyaBening bingung, amat bingung, "Ini demi masa depan kita, sebelum semuanay terlalu jauh, aku ingin mengakhiri.... toh aku cuma main-main kok!. lupakan saja semuanya!" deretan kata keluar dari bibir yang sudah aku kenal dua tahun ini, nyaris tak percaya, ada apa?
"Mungkin ada kesalahan yang kamu perbuat dan nggak kamuy sadari?" balasnya, tangannya menggenggam tangan mungil bening, menguatkan
Bening terdiam.... toh kita selalu bilang satu sama lain kalau ada hal yang masing-masing tidak kami sukai.... ada apa?
"yaudah! kamu pikir-pikir aja dulu?" bisiknya perlahan
Selama Aa' bahagia dengan pilihannya, why not? selama ini Aa' mungkin tak pernah bahagia, bening hanya sebuah cerita pelengkap yang menjadi bumbu, maka rasa itu tak benar-benar ada di hati, sehingga dengan mudah saja dibuang.... harusnya bening tau
- Bening hanya sebuah cerita membosankan yang tak berarti sama sekali buat Aa'
- Aa' tak bahagia bersama bening, apa yang bening kasih tak sama dengan yang orang lain beri, so gak salah kalo Aa' ...... bening gak selalu ada buat Aa', gak pernah ada saat Aa' butuh, jika Aa' lebih bahagia dengan yang lain... ikhlaskan....
- kadang kala manusia ingin yang lebih, maka jangan pernah salahkan Aa' dalam hal ini, itu hal lumrah, harusnya dari awal nyadar diri dong ning!
- banyak yang kadang kita buat tanpa disadari, maka tak boleh marah dengan kritik orang, pa lagi itu membangun.... bening hanya manusia biasa yang tentunya tak pernah absen dari salah
"bening.... dalam hidup manusia tentunya pernah jatuh, dia tak pernah mati cuma tak akan pernah berjalan seperti dulu lagi" sebuah suara menggema dari lubuk hati terdalam.... membangun sebuah komitmen itu ibarat membangun sebuah rumah, tak perlu bagus atau mewah apalagi mahal, yang penting terdiri dari empat tiang saja sudah cukup tiang pertama adalah kesetiaan, tiang kedua adalah kasih sayang, tiang ketiga adalah saling pengertian, dan yang keempat adalah kejujuran, seperti juga sebuah rumah, ada kalanya atapnya bocor, dan untuk menambalnya butuh sebuah kata lagi yaitu kekompakan! namun ... jika keempat tiang tersebut roboh, maka untuk membangunnya butuh dua tangan, karena kalau hanya dibangun dengan satu tangan maka akan timpang dan tak akan pernah jadi rumah yang diinginkan....
Senin, 03 Agustus 2009
Sayu
Betapa semua ini membuat aku bingung, lelah melangkah sendiri, bingung mencari penompang. banyak yang bilang bening tegar, tapi kayaknya untuk kali ini menjadi demikian rapuh....
"Ning... ada apa? sebulanan ini keruh terus nie?" temen di kantor bertanya.
"gak papa cuma pengen gorengan aja" alisnya bertaut. guyonan yang seharusnya berlangsung seru, jadi garing
"Ada apa?" kejarnya, "Bening yang ceria dan selalu riang gak biasanya seperti ini" aku menunduk hiks
sulit tentu saja, kali ini aku harus menyelesaikan semuanya sendiri, tak ada yang akan menungguku pulang, membuatku lebih ingin cepat2 bangun di pagi hari, membuatku selalu merasa berarti dan disyangi... hilang.... kemana kau pergi? terlalu banyakkah salahku.. bahkan untuk senyum yang selalu kugoreskan di lesung pipitku saja aku tak lagi kuasa... kau torehkan begitu dalam.... harusnya dari awal aku mengerti.... seperti bulan sayu yang menatap cahaya mentari dikejauhan, dan gelap semakin meraja rela hingga tulang sumsum.... itulah aku sekarang...
Selasa, 07 Juli 2009
...
Tiap tengah malem bangun dengan mimpi buruk yang sama, berlari ke kamar mandi dengan keringat dingin, kemudian dilanjutkan dengan mengadu sambil tersedu di sujud panjang, benar-benar melelahkan... betapa sulitnya rasa ini, teramat sulit
Lelah
Aku lelah menangis aku lelah dengan semua ini aku lelah, betapa tempatku mengadu sudah hilang aku lelah
Minggu, 05 Juli 2009
Apapun yang Kau Mau

AKU HANYA BERMIMPI! ingin sekli berteriak lantang, mengabarkan pada dunia tentang rasa ini, tentang rasa sakit yang telah benar-benar menjadi nyata. Aku hanya bermimpi, ini mimpi. hanya mimpi!. bulan yang sabit tampak semakin sabit saja, teramat sipit!
malam itu aku mengakhiri semuanya dengan tidak tidur, tapi juga tidak terjaga, kupejamkan mata erat, berkali-kali mengumam ini hanya mimpi, hanya mimpi hanya mimpi, hingga bulan tak lagi menampakkan wajahnya, kata itu yang kugumamkan, INI HANYA MIMPI!
aku terjaga, dan benar! sosok yang biasanya selalu ada di sampingku sudah lenyap, bahkan bantal dan gulingnyapun masih rapi, dia pergi, hilang.... ku teliti setiap jengkal tempat yang selalu dia tempati, rapi! tak berbekas, hilang! benar-benar lenyap tak bersisa.... sedetik kemudian kurasakan nyeri, menyadari kenyataan dia benar-benar pergi, benar-benar hilang, tak ada sama sekali... aku tergugu.
Tega! itu kata pertama yang kulontarkan, seharusnya tak sampai seperti ini, harusnya saling mengerti dan saling paham, tapi benar! dia telah pergi, harus aku akui itu...
aku sayang dia, aku sayang dia, berulang kali aku menggumam, tapi gumaman itu menggumpal di atas uap yang kukeluarkan bersama desah nafas, bahkan di tak sayang kamu Bening!"
aku meyakinkan diri, hanya butuh sedikit waktu untuk saling mengerti, bahkan untuk tempat kosong yang ia tinggalkan, hanya butuh waktu! hanya butuh waktu!
aku akan menjadi apa yang kau inginkan, akan menjadi apa yang kau mau, apapun yang kau mau... aku akan belajar...
Jumat, 03 Juli 2009
Tanpa judul
Engkaulah kilatan cahaya yang melenyapkan segala jejak dan bayang
Engkau bentangan sinar yang menjembatani jurang antara duka mencinta dan bahagia mendera
Engkau terang yang kudekap dalam gelap saat Bumi bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi dibalik punggunggumu
Takkan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu
Andai kau tahu.....
Engkau bentangan sinar yang menjembatani jurang antara duka mencinta dan bahagia mendera
Engkau terang yang kudekap dalam gelap saat Bumi bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi dibalik punggunggumu
Takkan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu
Andai kau tahu.....
Minggu, 28 Juni 2009
Rasa apa namanya ini?

Kadang aku juga tidak paham, betapa sikap orang membuat kita seakan tak dihiraukan, bahkan bersit tanya hadir... mempermaslahkan sesuatu yang seharusnya di pandang sebagai bumbu saja.....
Malam gulita, tapi dengan basmalah kumulai langkah ini, menanti... tentu!....
aku sendiri malam ini, duduk dipojok lemari kosong yang sengaja disandarkan dekat pintu, kubaca buku dengan santai... sepi... hening....
DEG! Sleeeeeeerrrrrrrr mendadak ada yang nyeri di hati... "oh no! apa ini yang namanya kangen?" aku terdiam.... ehm....
bahkan untuk sekedar tau kabarku saja dia tak peduli, kenapa mesti ada rasa kangen?
terkadang untuk sebuah rasa ini aku juga kurang paham...
aku sendiri malam ini, duduk dipojok lemari kosong yang sengaja disandarkan dekat pintu, kubaca buku dengan santai... sepi... hening....
DEG! Sleeeeeeerrrrrrrr mendadak ada yang nyeri di hati... "oh no! apa ini yang namanya kangen?" aku terdiam.... ehm....
bahkan untuk sekedar tau kabarku saja dia tak peduli, kenapa mesti ada rasa kangen?
terkadang untuk sebuah rasa ini aku juga kurang paham...
Minggu, 21 Juni 2009
Rabu, 17 Juni 2009
Kisah Tuk Sang Pemimpin
Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatu cara untuk mengelak, “Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”
Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengan si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi: “Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108)
Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.
“Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)
Perhatikan kata-kata “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri.” Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu.” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun
Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatu cara untuk mengelak, “Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.”
Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengan si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi: “Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108)
Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.
“Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)
Perhatikan kata-kata “tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri.” Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu.” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun
Minggu, 14 Juni 2009
Seperti Coklat Karamel
Perjalanan yang melelahkan terasa sangat pendek dengan adamu di sampingku, angin malam yang berhembus kencang sama sekali tak terasa, yang penting aku merasa aman di sampingmu.
jalan yang kau persingkat dengan dua tanganmu terasa manis dikenang, lembut dan lekat... ehmm... jika waktu masih memihak aku orang pertama yang menginginkan "coklat karamel" lekat dan manis itu....
jalan yang kau persingkat dengan dua tanganmu terasa manis dikenang, lembut dan lekat... ehmm... jika waktu masih memihak aku orang pertama yang menginginkan "coklat karamel" lekat dan manis itu....
Rabu, 03 Juni 2009
Rabu, 27 Mei 2009
Bahagia
Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai.Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.
MAKA SEKARANG KATAKAN KALAU AKU AKAN TERUS BAHAGIA!!!
MAKA SEKARANG KATAKAN KALAU AKU AKAN TERUS BAHAGIA!!!
Pilihan
Sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu dengan seseorang,
yang sangat berarti bagi kita,
hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut
tidak ditakdirkan untuk bersama kita,
sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu.
Jika dihadapkan pada dua pilihan... maka manusia dituntut untuk memilih satu diantara dua, maka harus yang manakah yang akan dipilih????yang sangat berarti bagi kita,
hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut
tidak ditakdirkan untuk bersama kita,
sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu.
Jalan manusia layaknya ranting pohon yang bercabang, senantiasa bercabang, dan cabang itu kerap membuat semut yang berjalan di rantingnya menjadi bingung, bahkan tersesat di dua jalan yang berbeda... jadi bagaimana cara menyikapinya saja, bagaimana jejak mengikuti hati yang nantinya akan berjalan di tempat yang benar, cuma... jika harus mempertaruhkan cinta dan rasa... apakah hati akan mampu...?
Rabu, 13 Mei 2009
Takut
Aku takut sosoknya hilang
pun takut tak pernah kembali
karena ketakutan ini sangat beralasan...
aku takut...
menulisnya di sini lagi ...
pun takut tak pernah kembali
karena ketakutan ini sangat beralasan...
aku takut...
menulisnya di sini lagi ...
Aku dan Mawar
Ada yang sering menilai jika mawar putih itu adalah mawar misterius yang dingin, karena warnanya yang lebih menyerupai salju. putih. tapi aku suka mawar putih bukan dari hal itu, karena aku menyukainya atas dasar Cinta!
kelopaknya yang putih menandakan kesucian dan kesetiaan, bentuknya elegan bahkan nyaris tanpa cela, sangat sederhana tapi berkarakter...pembawaannya tegas walaupun tekesan rapuh, tapi sewaktu-waktu dapat melukai siapa saja yang coba menyakitinya...
kelopaknya yang putih menandakan kesucian dan kesetiaan, bentuknya elegan bahkan nyaris tanpa cela, sangat sederhana tapi berkarakter...pembawaannya tegas walaupun tekesan rapuh, tapi sewaktu-waktu dapat melukai siapa saja yang coba menyakitinya...
Langganan:
Postingan (Atom)
