Sabtu, 08 Mei 2010

Sebentar

Aa datang!. aku bersorak senang, membiarkan mataku menjelajah di setiap jengkal wajahnya, kuperhatika lekat, takut ada yang tertinggal walau setitik. Aa bening kangen... ingin sekali membisikkan kata-kata itu... tapi aa tampak asyik dengan dunianya...
"Udah dulu ya, aku pergi" aku mengangkat alis kecewa mau kamana kok cepet banget?
"T
unggu!" spontan dan tanpa tendeng aling-aling, Aa berhenti berbalik arah dengan alis terangkat dan bibir mengkerucut
"Ada apa?" aku kebingungan, enfungsikan segera kemampuan otak kiri untuk menjawab pertanyaan Aa
"Bening pengen dicopyyin lagu dari hp Aa" yaps pas!, segera kuserahkan Hp membiarkannya bergulir ke tangan lebar itu. kembali merasa nyaman dengan adanya Aa di dekatku, tak peduli mungkin Aa sudah punya yang lain lagi di luar sana--seperti yang tertulis di Fbnya-- tak peduli sama sekali, bahkan jika memang lagu yang di transfer Aa tak ada aku tak peduli... asal Aa ada di sini sebentar saja bersamaku, hanya sebentar...



Andai Aa Ada di Sini....

Aku terbangun tengah malam, tepat saat jam menunjuk sudut siku-siku dengan simetrisnya. terduduk dan kaget, sekujur tubuh panas, badan menggigil kedinginan. panas!

jendela yang lupa kututup tadi sore dihantam-hantam angin, malam ini sepertinya cuaca juga tak lagi berpihak pada bumi. aku terduduk di pojok, lemah, takut tak berdaya dan SENDIRIAN! dengan badan menggigil hanya mampu memandangi jendela dengan tirai yang tertiup angin, mengharap ada kejaiban yang bisa menutup rapat dan memberi kehangatan di seluruh ruangan ini. sekian ribu detik terdiam akhirnya dengan lunglai aku berjalan menghampiri jendela, menutup jendela dengan buru-buru, merasakan gigil yang amat saat lantai porselen menyentuh kulit demamku.
"jaga kesehatan ya sayang..." selalu saja Aa bilang seperti itu saat aku sudah membandel gak mau dengerin kalo disuruh istirahat. dan saat ini betapa aku merindukan saat-saat seperti itu. sudah lebih seminggu terkulai lemah, tak tau penyebab sakit, sendiri, cuti gak masuk kerja, izin gak kuliah...sendiri! benar-benar sepi...

aku memandang nanar ke langit-langit, mencari titik ternyaman yang bisa kujadikan tumpuan mata untuk menerawang. menghela nafas berat, dan membiarkan tangan meraih hape seluler yang tergeletak sepi di samping bantal. memencet nomer yang sudah kuhapal di luar kepala 0878xxxxxxxx tapi lagi-lagi urung kulakukan. aku ingin aa di sampingku memberi tangannya menyentuh keningku yang sudah mencapai titik 39 derajat. aku ingin Aa datang membiarkan dada bidangnya kusandarai hingga aku merasa aman... aku ingin aa ada di sini.... gaung harapanku terpantul di seluruh ruangan. andai Aa ada di sini...andai Aa tidak pernah pergi, bernagai macam "andai" juga turut serta menemani gundahku... aku kangen Aa. ingin dia benar-benar ada di sini di sampingku, walau hanya untuk malam ini saja...

FUIHHH

Kepadanya yang kupercayakan hati ini.....

Menerimanya berarti harus siap untuk terluka
Menerimanya kemungkinan ditinggal juga ada
Menerimanya wajib bersabar

dan aku masih menunggung di sini ...

fuiiiihhhhhhh

Minggu, 02 Mei 2010

beberapa detik setelahnya...

aku tersenyum nanar memandang layar yang kelap-kelip di depanku, mengusir linangan air mata yang memaksa untuk menganak sungai, walau berusaha lapang, ternyata sakit juga rasanya....

tepat di sini di dada ini terasa sakit banget, walau sudah berusaha mengatasinya, dan mereka-reka kemungkinan terburuk ini akhirnya sakit juga... sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt bangeeeeeeeeettttt

seperti ada bongkahan es yang menusuk tepat di tengah, mengarah simetris pada ulu paling dalam. perih bangetttt.

Allah, turunkan sedikit ikhlasmu kepadaku...

Meski Perih

Membaca status baru di layar Facebook Aa membuatku menggulung senyum. ADA YANG BARU! jeles pasti, manusia biasa juga, biarpun ditahan-tahan agar tetap tabah tetap aja ada yang sakit, terus saja ada rasa gak rela. tapi demi mendengar kalo Aa emang sudah tidak sedikitpun menyisakan rasa sayangnya... maka harus mundur pelan-pelan dan melangkah ke belakang secara teratur. Pasti dan wajib! walau sakit...

semoga bahagia... sering bertanya memang, apakah masih ada sisa untukku? fuiihhh... lelahnya memikirkan itu... harus segera membuang jauh-jauh palgi udah tau kenyataannya

meski perih... kata Vieera

Kamis, 29 April 2010

Tak Bisa

tak bisa dirku tanpa detik tidak memikirkanmu,
tak bisa hati ini tanpa kebik mengingatmu
tak bisa rasa ini tanpa tanya mengenaimu

tak kuasa hatiku tanpa bisa menahan sayang ini
tak kuasa aku tanpa rindu sepanjang jarak terhadapmu....

adakah kau sedikit mendengar? walau ku tulis di sini, dilembar tak bergaris yang selalu menemani ceritaku...

Aa... betapa aku sayang kamu hingga detik ini

Selasa, 27 April 2010

SAKIT

Saat terbangun kemudian sadar kalau Aa tak lagi di sampingku, saat itulah aku tahu bahwa dada bidangmu tak bisa ku sandari lagi, bahwa tanganmu tak lagi bisa sentuh aku, bahwa desah nafasmu sudah tak berhembus pada jarak terdekat denganku... aku menyadarinya baru-baru ini... meraba-raba dalam gelap, dalam lembah terdalam yang menamakan dirinya hati hingga menemukan di sana... Aaku aku kangen... enam kata inilah yang selalu membuatku tergugu tiap malam, membuatku bersmpih dan menangis... alangkah sakitnya rasa sepi yang menggantung jelas di relung terdalam yang menamakan dirinya hati...

Aku kangen Aa bahkan saat Aa menulis sudah tidak lagi mencariku dalam gelap, Aku rindu Aa saat dengan tegas Aa menerjangku halus... dan aku masih sayang Aa saat ternyata sudah tidak ada lagi puing-puing indah itu. tak berbekas sama sekali di hati Aa...

AKU BENCI....

Aku benci, dengan kamu yang pernah hadir di kehidupanku
aku benci, dengan aku yang masih juga mengingatnya
aku benci, saat tau kau tidak lagi seperti dulu
aku benci, ketika tahu kau benar-benar pergi
dan aku sangat benci dengan diriku sendiri yang masih mengagumi... menyayangi... kangen di proporsi yang sama padamu...
aku teramat benci karena aku sangat-sangat sangat menyayangimu

Kamis, 25 Maret 2010

IRONIS

...Aa masih nunggu angkot nie
Ini adalah sms Aa, saat aku mengatakan kalau aku ada di kota tempat Aa kerja. deg! Aa mau kesini?! rasa girang menyelusup, seneng, senyum-senyum sendiri rasa lapar akibat puasa sunnah seharian hilang terasa, langsung saja memanggil taksi, dengan riang mengatakan pada sang sopir agar mengantarkan pada tempat pemberhentian taksi.sepanjang jalan memandang dengan riang, suasana jad serba indah, sampah yang berserak di sepanjang trotoar jadi indah, pengendara yang melanggar peraturan jadi seperti kasatria, bahkan pertengkaran antar sopir karena berebut angkot terlihat eksotis, ironisnya lagi ongkos taksi jadi dibayar tiga kali lipat, parah! benar-benar terjankit virus yang entah apa namanya.
duduk manis di bangku reot samping trotoar, langit sudah mulai menggelap, bahkan knalpot mobil sudah mulai menyesakkan dadaku, tapi harus bertahan!jadilah penantian ini berlanjut, takpeduli jarum jam yang sudah maraton hingga di detik 3.600 x 3, teta bertahan!.

senyum yang semula mengembang sudah mulai mengerut, bahkan hati yang berbunga-bunga sudah amat was-was, puluhan angkot yang berhenti terlewat begitu saja tanpa ada batang hidung Aa. harap-harap cemas aku lekat memandang angkot terakhir yang penuh sesak, dan tidak ada Aa di sana!.
...Aa jadi kan ke sini?bening nunggu loh!.......
sebuah sms meminta kepastian yang ironis, terkirim tepat dimenit kesekian ribu dari jarum yang tak jua mau berhenti.
Aa: Lain kali saja, masih sibuk nie...
terperangah tak percaya,
kaget
kecewa...
bening: loh bening sudah di sini lebih dari dua jam loh!jadi dari tadi cuma
becanda yah?

Aa: loh dari tadi emang Q pernah bilang mau kesana? krang ja masih sibuk
nie

ces! seperti ada satu jarum yang tepat menancap ke ulu hati, sakit! jelas sudah, aku tertunduk lunglai, menatap gamang pada Hp yang dari tadi berbunyi, dari temen yang sudah nunggu dari tadi, meminta kepastian apakah aku akan ikut pulang atau mau ditinggal.

termangu tak percaya dengan apa yang terjadi, mencoba berdamai dengan hati yang pasti marah, kecewa dan terluka. malu amat sangat malu, jelas! malu pada diri sendiri, malu pada temen dan terlebih malu pada Aa, harusnya bisa menafsirkan kedaan ini dari awal. maka saat terdengar suara adzan, pertanda halal sudah ku lepas puasa, yang bisa ku lakukan untuk menjalankan sunnah utamanya untuk seorang shoum adalah dengan menelan bulat-bulat permen kiss yang bertuliskan "MAKASIH YA" yang awalnya ingin ku berikan buat Aa

aku menunduk kelu, entah karena apa, memang harusnya tak usah kelu. dan aku yang kata orang tegar dengan segala situasi, selalu berusaha melawan sesuatu tanpa tangis, maka kali ini aku benar-benar menangis, tangis tanpa suara, isak tertahan...IRONIS!

Kamis, 25 Februari 2010

Surat....


Aa tercinta....

kalau surat ini bisa kusampaikan kepadamu, tujuannya adalah untuk menyatakan bahwa aku merindukanmu... menyayangimu... menghormatimu... hingga detik inipun begitu, aku sayang kamu...

saat aa meninggalkanku, hati ini teramat pedih, tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah karena kau pergi tanpa jejak, membuatku mencari di tiap kebik langit tentangmu, tapi yang kudapat hanyalah mampu meraba-raba dalam kegelapan, aku terluka parah!

cinta kita masih muda dan abadi, cinta yang bergejolak, intens dan lembut. kau telah menjadi sahabat terbaikku, kau memperlakukanku lebih baik dai siapapun sebelumnya dan sejak saat itu. Aku bisa lebih banyak tertawa bersamamu daripada yang pernah aku alami. aku ingin kau tahu--kalau saja aku bisa mengirimkan surat ni, entah kemana--bahwa setiap hari aku mencoba untuk menghidupkan perasaan kembali. sejak kau pergi beberapa saat yang lalu, aku tidak merasakan emosi apapun!

aku menulis surat ini dalam cahaya lilin yang temaram, seperti temaramnya harapanku terhadapmu. aku menangis setiap malam untuk waktu yang lama, dan segala emosiku yang paling dalam tumpah bersama air mata itu. satu-satunya emosi yang aku rasakan adalah rasa bingung. aku akan terus berusaha mencari jalan keluar dari kegalauan ini, mencari kestabilan.
aku ingin mengucapkan terimakasih karena telah memberiku kesempatan untuk mengenalmu sejauh dan selama yang memungkinkan bagimu. keindahan dan ketulusan perasaanku kepadamu akan cukup menompangku selama hidup...

sebelum mengenalmu aku adalah gadis yang mencintai kebebasanku, dan kini akupun telah kembali seperti itu... tapi sekarang aku tahu bagaimana mencintai sedemikian dalam dan dicintai. kau satu-satunya yang tidak mau mencuri kebebasanku, dan satu-satunya yang akan kubiarkan memilikinya. aku tidak membencimu karena telah meninggalkanku, sebab aku mengerti. saat kumatikan lilin akan kurekatkan hatiku untuk selalu mengikuti saranmu agar tidak mencintai terlalu dalam, akan kubiarkan beban menguap bersama asapnya... dan bayanganmu yang tak mampu kuraih, akan aku relakan semampuku, karena sebagai orang yang tak diharapkan aku hanya mampu mendampingimu di dalam hatiku, selama sisa hidupku.... cintaku selamanya.........

Kamis, 10 Desember 2009

Aa...

aku kangennnnnnnnn.................

kangen.........

kangen........

hingga batas sisa rinduku.........

Selasa, 08 Desember 2009

Tangis...

aku menangis....

sebuah tangis yang tak tahu karena apa dan untuk apa, mataku sendu, sembab! air mata teru mangalir tiada henti... benar-benar sedih...

Aa di depanku, memandangku, kemudian dia beranjak, mendekapku erat di pelukannya, aku sesegukan di dadanya... amannya... Aa aku sayang... aku sayang.... ingin sekali berteriak keras-keras, tapi aku hanya mampu membenamkan kepala semakin dalam di dada Aa... aku sayang...Aa... 

Selasa, 01 Desember 2009

.........
langkahku terhenti dan mungkin akan menancap di sini, walau masih ingin bergerak tapi ternyata perekat yang dibuat sang waktu sedemikian lekatnya, hingga buat aku terjerebeb dan tak bisa terus berlari...
aku dan kamu... seperti berdiri dari ujung ke ujung sebuah lorong, aku terjerebab disini memandangi sosokmu yang semkin hilang saja... hingga buatku paham, dan mengerti banyak hal...
kudendangkan lagu sayang...
kau balas dengan lagu perpisahan
ku sampaikan kata kasih...
kau ucapkan kata shitt
kukirim rentetan kangen...
kau terdiam...

Maka aku terjerebab di ujung ruangan yang sedemikian jauh dari sosokmu, mamandangi perlahan sosok itu...
dan masih seperti dulu aku mengeluarkan isak tertahan,
takut...
takut isak itu semakin membuatku terpaku di sini
hingga tak pernah lagi raba bayangmu...



Senin, 16 November 2009

Aa kembali.......

Aku duduk dengan bertompang dagu, menunduk dalam... bahkan terlalu menunduk tampaknya..., kacamata kecil yang bertengger juga sudah miring bahkan nyaris terjatuh, buku yang sudah dari tadi aku baca juga sudah kusut bahkan ada lebel "bening udah dong bacanya kalo gak serius....hehehehehe" udah dari tadi koar koar di atas buku, seningga aku lebih memilih memandang miris ke buku yang separuh terbuka itu....bening kangen Aa....

waktu berselang bahkan menit yang berlarian semakin eksotif saja di jam dinding, mengejekku untuk hengang dari rasa nyeri di hati yang mendadak menusuk-nusuk...kangen...begitu banyak orang mendefinisikannya... bahkan aku sendiri tak paham apa ini namanya, untuk bertanya pada ilalang yang bergoyang --begitu biasanya sering disebut-- aku takut....maka aku hanya menamainya dengan sunyi....
sudah lama Aa tak datang, lamaaaaa sekali... untuk jeda yang dia buat mungkin tak seberapa tapi untuk jarak yang di tinggalkannya....
berulang kali Aa mempertegas akan maslah ini,
fuih bukannya gak mau ngerti tapi ...
entah...
Duduk lama termangu... serasa ada yang merhatikan dari tadi, jadi serba salah kudongakkan kepala perlahan... tepat di dongakan pertama, aku tersentak...aku menemukannya di sana, menemukan sosok jangkung menjulang itu berdiri tegap di sana, tersenyum khas seperti biasa matanya penuh binar, bahkan gurat-gurat bahagia tersirat disana, tepat di depan pintu kamarku.... sedikit tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini, maka aku hanya tertegun lama. hingga sebuah suara bariton yang sudah kukenal terdengar lembut menyapa
"Bening..." Aa! itu benar Aa,
"Aa..." gumamku tak percaya
Aa tersenyum khas, tangannya bebas menggantung seakan menunggu aku berlari ke pelukannya seperti biasa, maka aku beranjak setengah berlari menghampiri dada bidang Aa, selalu saja aku tampak sangat imut jika berdiri dekat dengannya.. Aaku...
karaknya denganku sudah semakin dekat, lima langkah lagi aku sudah ada di pelukannya, tapi kakiku tertahan, lama kupandangi wajah yang sudah tak asing lagi di depanku, masih setengah tak percaya... kukagumi Aaku yang selalu ku rindu... senyumnya masih khas, alisnya juga msih sama, bahkan suaranyanya saat menyapaku masih juga sama...sedikit aku ragu
"sayang... kenapa ragu..." jes! aku kangen Aa
maka tanpa ragu aku memeluknya erat, mendekapnya dengan dua tangan mungilku, membenamkan kepala ini di dada bidangnya, kurasai tangan kekarnya juga mendekapku, bahkan secara teratur mengelus rambutku sayang...aku kangen Aa, Bening rindu Aa, bening sayang Aa. Aa jangan pergi lagi ya... bening takut sendirian, Bening sayang Aa.... bening kangen... banyak kata yang ingi aku ungkapkan buat Aaku yang satu ini, cuma yang keluar hanya desahan nafas "Fuiihhh". kupejamkan mata merasai setiap detik terindah ini... saat aku dan Aa sudah sedemikian dekat seperti saat ini.

hidungku segar mencium bau khas Aa yang sudah tak asing lagi.. kupejamkan mata erat memenuhi semua adrenalinku dengan harum Aa...bening sayang Aa...bening kangen...cuma itu yang mampu kubisikkan, setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi

saat terbangun aku sudah ada di kasur merah seprti biasa, bantal guling sudah tak rapi lagi, ada yang aneh, mana Aa?!, Aa gak ada! kemana?!, kupandangi sekeliling, kosong!tak ada tanda-tanda kamar ini pernah dimasuki Aa, anehnya bau khas Aa masih segar di hidungku... aku mulai mencari-cari, menyingkap setiap barang yang kutemui di sekitar tempatku duduk, ku geser bantal biruku, tak ada Aa di sana, di balik guling juga nihil, maka aku menyapukan pandangan ke setiap jengkal yang ada, kosong! hingga mataku terantuk pada sesuatu di pangkuanku, kaos Aa, tergeletak begitu saja di sana.

bau Aa ternyata dari sana, baju itu tampak kusut, mungkin karena terlalu sring aku sentuh, tak ada Aa di sini, tempat tidur Aa masih kosong, bantlanya juga masih rapi, tak ada tanda-tanda baru saja ada yang menempati, suasana masih juga sunyi, buku yang tadi kubaca juga masih tergeletak merana... sunyi... kulirik jam di dinding 01.00. sepi, dan sedemikian hening... tak ada Aa, tadi aku hanya mimpi... kuhembuskan nafas berat, tanganku bergerak memilin-milin baju Aa yang masih saja ada di pangkuanku bertengger dengan manisnya... aku kangen Aa... aku sayang Aa... tapi baju itu tetap tak bergeming... aku tertegun lama... tanganku juga masih memilin ujung baju itu...

Minggu, 15 November 2009

....

jalan berliku ini sudah semakin terjal saja... bahkan dari ujung ke ujungnya saja aku tak jua paham apa yang bakal kuhadapi nanti.... aku tk paham...

karunia Allah begitu melimpah dimuka bumi, aku memaknainya satu persatu dengan mneghitung bintang di langit... alangkah banyak dan tak terhitung, bahkan aku nyaris tersesat di belantara jagad raya ini... tapi mengapa aku masih juga merasa sendiri?

duduk termenung menjadi hobiku akhir-akhir ini, biarpun banyak yang menegor, mereka sudah kehilangan bening akhir-akhir ini....
kupandangi langit ciptaanNyA. Indah! untuk sementara ini aku ingin lepas lelah di peraduanMu Allah, ingin menjadi kekasihMu, ingin benar-benar jatuh cinta hanya padaMu, jangan sampai aku membaginya dengan yang lain... aku iri dengan hamba-hambaMu yang lain, aku ingin selalu dekat denganMu. tapi mengapa Kau sedemikian jauh, tak mampu ku jangkau dengan setitik kelingkingku juga.... aku rindu Engkau.... betapapun selala ini aku telah terlalu jauh melangkah, menisbikanmu dengan kenyataan empiris yang melingkar-lingkar. membuatku berlari hanya pada ruang kosong saja... hampiri aku... buat aku intens denganMu

Minggu, 30 Agustus 2009

Apa artiku buatmu.....

masih sering ngejres ngejres ne... sering sedih dan kalut, susahnya rasa ini.... mungkin kau heran atau malah mencibir... tapi terserah kau boleh anggap bening apa.... tapi buatku.... --kalau boleh-- anggap saja aku serpih masa lalumu yang sekedar ingin tau itu saja.....
jadi ingat pesanmu tempo dulu.... "aku tak mau kisah ini menjadi kisah masa lalu" begitu ya, Aa pernah bilang....?

bening lelah ne, bening capek....bening.....entahlah....

Jumat, 07 Agustus 2009

Pagi kali ini.....

hari masih pagi, kabut dipepohonan masih menitik satu-satu, basah dan lembab... aku mengerjap-ngerjapkan mata perlahan "Ning sayang... bangun dong, udah kesiangan ne..." suara khasa yang dulu kukenal.... seketika aku terduduk Aa' mataku liar meyapu ruangan, meneliti tiap jengkal apa saja yang kutemui... kosong.... "Ning kopi Aa' mana?" kali ini terdengar dari ruang baca-- seperti yang biasa dilakukan aa' tiap pagi dari ruangan itu-- aku segera turun dari kasur, setengah berlari menuju ruangan itu, tidak ada! "sayang.... 143..." dari sudut ruang tamu, aku berlari ke tempat tersebut, tapi yang kutemukan hanya hampa.... aku terduduk... astagfirullah.... mengapa hingga dtik ini tak mampu kuhapus bayangannya di seantero sudut rumah ini? sepi melanda, cericit burung bahkan tak mampu kudengar.... "ning bantuin dong nyari metode ngajar..... sayang sekarang lagi edisi gombal-gombalan loh.... Ning, menurut teori ini.... Ning ini... Ning itu" aku mendongak dan kutemukan Aa' di kursi malah ruang baca, kutemukan Aa' di sofa, di samping rak buku, dekat komputer, berdiri di pintu, dengan senyum khasnya yang tertarik sebelah, kutemukan mata sipitnya bertebaran seiring dengan senyum itu... banyak Aa' pagi ini... betapa aku sangat menyayanginya.... menghormatinya.... mengaguminya... (maaf.....)

segera aku berlari, menguyur badan dengan wudhu' bibir tak henti melafadzkan dzikir... Allah maafkan aku jika belum mampu, bening ikhlas... ikhlas... ikhlas... nurani terdalam berkata.... maka pagi itu kuhabiskan sisa pagi dengan melafadzkan ayatNya...

Selasa, 04 Agustus 2009

Aa' dan kalung

aku masukkamar seperti biasa... duduk terpekur, capek! seharian banyak kerjaan di kantor. blip blip blip... ehm ehm..... sapa yach magrib2 gini! nomer baru!
"Halo, assalamualaikum" sapaku
"Walaikumsalam, mbak ning... makasih banget..... ini aliya" ooo, temen di kantor redaksi, alisku bertaut, tumben.... ada apa? sapa nie
"
emang bening udah ngapain?" tanyaku polos
"Minggu kemaren mbak pernah bilang pas kalung aliya hilang, kalo kalungnya sayang ma kamu pasti bakal balik juga kok!. nah krang kalung aliya udah ketemu, maksih... padahal minggu kemaren udah putus asa banget loh! berkat mbak ning ne, aliya jadi tetep semangat nyari kalungnya.... bla... bla... bla... ternyata kalungnya masih sayang aliya... bla... bla... bla"
DEG! sketika aku tersadar, sesuatu yang hilang kalau masih sayang pasti akan kembali juga kok! Aliya yang sabar..., cuma bagaimana kita saja menyikapinya, barang yang hilang saat kembali tak sebagus dahulu lagi... barang itu bisa hilang di selipan lemari.... sela-sela rak buku, atau tempat kotor lainnya, makanya saat barang itu balik agak sedikit kusam dan berdebu, gimana cara kita membersihkannya dari debu... bagaimana kita sabar menghadapinya...." itulah sekilas tentang nasehatku minggu lalu pada Aliya....

God! aku begitu piawai dalam hal menasehati, bukankah hal ini juga berlaku buat apa aja? jangankan kalung yang hanya benda mati... kalo manusia yang punya hati dan perasaan tentunya juga begitu..... seketika aku ingat Aa',

astagfirullah... betapa selama ini aku sudah sangat berdosa kepadanya, sudah sedemikian suudzon pada Aa', harusnya tidak seperti ini.... jika masih sayang akan kembali, seperti apapun nantinya itu tergantung kita bagaimana menyikapinya... kalo toh sudah tak ingin kembali dan tak sayang lagi.... ikhlaskan .... ilmu ikhlas itu susah, dan bening sudah dapat sebagian.... alhamdulillah... aku ikhlas... yakin Aa' gak bakal kemana-mana

aku menengadah, menatap langit yang mulai digantungi mega, jingga! aku menatap lekat langit di atas sana.... sangat yakin jika Aa' menatap langit yang sama.... maafkan bening yang selama ini sudah suudzon... maaf... jika nanti dipertemukan dalam kesempatan yang berbeda hanya Dia yang tahu...

Sebab Dia Pergi.....

Waktu merangkak perlahan, dan tentunya tak akan pernah sama, bahkana arakan awan yang berjejer di langit setiap sepersekian sekon juga pastinya berbeda.... bening termenung lama, matanya mengerjap-ngerjap, dan ini adalah renungan yang kesekian... bening terpekur, kini tak ada lagi bahu yang akan menompangnya saat terluka, pun tak ada lagi tangan kokoh yang akan menjaga saat takut, tak akan pernah ada lagi seseorang yang akan selalu ada saat dibutuhkan, lenyap tak bersisa... sama sekali, bening bertanya salah apa aku....? apakah aku sedemikian kejam denganmu A'? tapi pertanyaan itu tak pernah terjawab, hanya menjadi gaung di lembah terdalam pikiran....Aa' untuk sekedar bertemu saja sudah tak sudi, apalagi menjelaskan semuanya...

seperti waktu yang berarak, maka masih segar sepertinya kala Aa' menatap tulus bening "aku tak tahu kapankah langkah ini akan berlabuh pada sebuah muara hingga anganmu tak lagi menjadi bayang semu bagiku" pun masih baru-baru ini juga rasanya saat dengan sungguh-sungguh Aa' berjanji "Kita adalah sepasang rel kereta api yang berjalan beriringan tapi akan berhenti pada stasiun yang sama" serasa manis mengingat semuanya, serasa indah percaya pada Aa'.... tapi seperti waktu yang berputar, maka begitulah juga rasa.... tepat sebulan Aa' torehkan luka "Aku cuma main-main kok sama kamu, jadi lupakan saja semuanya...." serasa dipukul dengan palu godam, segitu tegakah? ada apa..... kenapa? ada yang salah....?

maka kali ini bening benar-benar terpekur, mata dukunya memandang langit, menerobos kejauhan, berharap Aa' juga akan memandang langit yang sama, bening sama sekali tak marah, cuma tentunya kecewa....

mata dukunya yang Bening berkedip, ada satu tetes yang jatuh..... aku menimbang-nimbang, ada beberapa alasan hingga Aa' pergi...
  • Bosan, merasa bosan dengan semuanya, sehingga mencari-cari alasan yang tak bisa dipahami
  • Ada yang lebih baik dari Bening, sebagai manusia biasa tentunya banyak hal yang ditemuinya kadang kala lebih baik dari apa yang dia miliki, maka tak jarang pepatah yang mengatakan rumput tetangga lebih hijau benar kayaknya
  • karena apa yang ada dalam bening, suatu hari Bening mangajak Aa' ke rumah, rumah Bening yang sederhana dengan perabot seadanya, membuat semua alis yang ada akan bertaut tak suka, tentunya banyak orang menginginkan lebih, tapi ternyata hanya itu yang ada... so beginilah jadinya....
  • Bening buat kesalahan yang tak pernah Aa' ungkapkan, kejujuran sudah mulai terkikis
sementara ini empat hal yang Bening reka, tapi alasan yang paling kuat adalah Aa' sudah tak mau lagi bersama Bening! maka dari itu bening mencoba mengerti


kali ini bening terduduk, sedih tentu saja! aku sudah sedemikian percaya,
"Selama ini kita baik-baik saja mbak..." keluh ning bingung pada mbak L yang kebetulan mengaerti permasalahannya
"Mungkin ada kesalahan yang kamu perbuat dan nggak kamuy sadari?" balasnya, tangannya menggenggam tangan mungil bening, menguatkan
Bening terdiam.... toh kita selalu bilang satu sama lain kalau ada hal yang masing-masing tidak kami sukai.... ada apa?
"
yaudah! kamu pikir-pikir aja dulu?" bisiknya perlahan
Bening bingung, amat bingung, "Ini demi masa depan kita, sebelum semuanay terlalu jauh, aku ingin mengakhiri.... toh aku cuma main-main kok!. lupakan saja semuanya!" deretan kata keluar dari bibir yang sudah aku kenal dua tahun ini, nyaris tak percaya, ada apa?

Selama Aa' bahagia dengan pilihannya, why not? selama ini Aa' mungkin tak pernah bahagia, bening hanya sebuah cerita pelengkap yang menjadi bumbu, maka rasa itu tak benar-benar ada di hati, sehingga dengan mudah saja dibuang.... harusnya bening tau
  1. Bening hanya sebuah cerita membosankan yang tak berarti sama sekali buat Aa'
  2. Aa' tak bahagia bersama bening, apa yang bening kasih tak sama dengan yang orang lain beri, so gak salah kalo Aa' ...... bening gak selalu ada buat Aa', gak pernah ada saat Aa' butuh, jika Aa' lebih bahagia dengan yang lain... ikhlaskan....
  3. kadang kala manusia ingin yang lebih, maka jangan pernah salahkan Aa' dalam hal ini, itu hal lumrah, harusnya dari awal nyadar diri dong ning!
  4. banyak yang kadang kita buat tanpa disadari, maka tak boleh marah dengan kritik orang, pa lagi itu membangun.... bening hanya manusia biasa yang tentunya tak pernah absen dari salah
maka sekarang semuanya bukan untuk disesali tapi dijadikan sebagai bahan belajar, toh Bening masih tulus kok sama Aa', Bening tak penah marah, cuma bening bingung.... batin bening bergemuruh, belum sepenuhnya percaya jika dia sudah benar-benar pergi.... tiap kali terbangun pagi hari masih saja menoleh dan menyebut nama yang sama, nama yang selalu buat bening ingin bangun labih pagi, yang buat bening lebih semangat melakukan semuanya. benarkah dia benar-benar pergi?


"bening.... dalam hidup manusia tentunya pernah jatuh, dia tak pernah mati cuma tak akan pernah berjalan seperti dulu lagi" sebuah suara menggema dari lubuk hati terdalam.... membangun sebuah komitmen itu ibarat membangun sebuah rumah, tak perlu bagus atau mewah apalagi mahal, yang penting terdiri dari empat tiang saja sudah cukup tiang pertama adalah kesetiaan, tiang kedua adalah kasih sayang, tiang ketiga adalah saling pengertian, dan yang keempat adalah kejujuran, seperti juga sebuah rumah, ada kalanya atapnya bocor, dan untuk menambalnya butuh sebuah kata lagi yaitu kekompakan! namun ... jika keempat tiang tersebut roboh, maka untuk membangunnya butuh dua tangan, karena kalau hanya dibangun dengan satu tangan maka akan timpang dan tak akan pernah jadi rumah yang diinginkan....

Senin, 03 Agustus 2009

Sayu

Betapa semua ini membuat aku bingung, lelah melangkah sendiri, bingung mencari penompang. banyak yang bilang bening tegar, tapi kayaknya untuk kali ini menjadi demikian rapuh....
"Ning... ada apa? sebulanan ini keruh terus nie?" temen di kantor bertanya.
"gak papa cuma pengen gorengan aja" alisnya bertaut. guyonan yang seharusnya berlangsung seru, jadi garing
"Ada apa?" kejarnya, "Bening yang ceria dan selalu riang gak biasanya seperti ini" aku menunduk hiks
sulit tentu saja, kali ini aku harus menyelesaikan semuanya sendiri, tak ada yang akan menungguku pulang, membuatku lebih ingin cepat2 bangun di pagi hari, membuatku selalu merasa berarti dan disyangi... hilang.... kemana kau pergi? terlalu banyakkah salahku.. bahkan untuk senyum yang selalu kugoreskan di lesung pipitku saja aku tak lagi kuasa... kau torehkan begitu dalam.... harusnya dari awal aku mengerti.... seperti bulan sayu yang menatap cahaya mentari dikejauhan, dan gelap semakin meraja rela hingga tulang sumsum.... itulah aku sekarang...